7 empowering mindset orangtua:
1. Underestimate thingking vs encouraging
kita sebagai orangtua banyak meremehkan anak kita
contoh: aduuuh kamu gini aja g bisaaa.. gitu aja lama siiih
"sini siniii (diambil alih ) biar mama aja"
"aduh kamuuu gitu aja g bisa, mama dulu juara matematika sekecamatan"
"duuuh udah deh nanti berantakan, gak usah gak usah"
sebaiknya kita support beri kesempatan dan kepercayaan
"Ayo mama percaya kamu pasti bisaaaa"
"semangaaaat kamu bisaaa"
self esteemnya Naik, self confidence nya naik dan self worthnya naik
2.Negative Labelling vs Positif labelling
contoh: kamu ya males banget udah umur segini belum bs jalan, ke kamar mandi aja kok penakut banget, anak nakal..duuh berantakan banget, jorok, aaplagi jika body shaming terkait bentuk tubuh.. itu bisa membuat anak minder
ubah menjadi antonimnya..
anak nakal_anak shaleh
anak malas_anak rajin
anak saya suka bantah-anak saya critical thingking nya bagus
anak saya suka ngatur_anak saya jiwa leadershipnya bagus
lemot banget sih mikirnya padahal anak kita sedang mengkalkulasi yang baik yang tak baik..
labeling akan jadi konsep diri
itu bisa membuat anak seperti apa yang kita ucapkan.
Ayah bunda sebenrnya sudah tau apa yang harus diucapkan, karena saat ini kondisinya tenang... tetapi pada saat kondisi tertentu otak reptil membajak otak rasional.
jadi yang keluar adalah ancaman, tuntututan, marah marah
Betapa dosa jariyah kita kepada anak kita akan memberatkan kita kelak.
yang membuat anak kita minder, membuat anak kita negatif self image terhadap dirinya. Sehingga potensi nya engga keluar karena kita2 sering kasih label negatif ke anak
ubah dulu mindset kita nanti baru kita programprogramnya supaya anak kita salad menyampaikan perkataan pertanyaan, menggunakan bahasa yang baik.
tidak mematikan potensi dengan label yang negatif.
3.Generalization thingking vs factual thingking
kita terlalu sering untuk mengeralisir sesuatu
ambil kesimpulan terlalu dini, terlalu dilebih lebihkan.
contoh:
-dududuh.. ini pasti jatoh nih.. pasti jatoh
tau2nya engga๐
-kamu itu g pernah dengerin mama
(gak pernah itu berarti 100% g pernah dengerin)
-kamu itu dipanggil budek udah ratusan Kali
padahal scara factualnya dia baru 3 kali engga langsung respon
-kamu sukanya bikin mama mamarah
-kamu slalu bikin mama sedih
-kamu g pernah bahagiain mama
-kapan sih kamu ngertinya (seolah-olah g pernah mgerti)
-kamu tuh seneng banget liat Ade nangis
-umi capek tau g mau ngurusin kamu lagi
mulailah orangtua mengubah mindset hanya bicara sesuai fakta
misal: mama sudah panggil km 3 kali km tidak menjawab
kesadisan generasi yang akan datang itu bs jadi datangnya dari orangtuanya bukan dari sinetron yang menghujat hujat.
4. Distortion thingking vs Logical Thingking
menakut-nakuti
contoh:
-kalo g ngaji g dapet hadiah
-ayo makan, makan engga kalo engga makan ada suster tuh, nanti disuntik..
- itu ada ambulan, kalo engga makan dibawa nanti
-tu ada mobil polisi, ditangkep loh dipenjara kalo g makan
-ada anak g mau minum obat, orangtuanya mencari cara agar anaknyq mau minum obat, dicarilah anjing yang lidahnya menjulur, tuh minum obat engga.. kalo g minum obat digigit anjing hayo
seharusnya:
kalau kita mau anak kita makan sampaikan kenapa kita harus makan cari data ilmiahnya, cari ilustrasi video nya, apa yang terjadi kalau kita tidak makan, jawab secara ilmiah, jangan dibohong bohongin,
Semakin sering kita membohongi anak dengan sesuatu yg tak masuk Akal, maka makin rendah dayfikirnyaa
semakin kita sering sampaikan data ilmiah maka akan semakin baik kualitas bet fikirnyaa..
ketika anak sering dibohong bohongi sering terdistroksi dr kecil maka logikanya tidak terbangun dan critcal thingking nya lemah.
Bahaya kalau critical thingking lemah ia akan manut manut engga aware sama situasi dan kondisi.
5.Should-ing vs choice based thingking
mindset yang tidak memberdayakan adalah should-ing.. harus!, pokoknya! wajib! kudu! gak ada ruang untuk menghindar.
contoh:
- jangan bantah, mama lebih tau dari kamu
-pokoknya kamu harus masuk itb
-kamu harus rangking 1
kalau kita banyak memberikan kata harus, pokoknya, wajib, kudu kepada anak kita tanpa dia tau reason dibaliknya, kasian anak kita Locus of Controlnya jadi eksternal yang just. Dia butuh diarahkan secara keras2 terus memaksa. Kalau engga ada control yang kuat dari luar diri dia, maka dia gak akan melakukan sesuatu. Ia menjadi robot zombi yang menunggu perintah. Remotenya ada di bapak ibunya. Dia terlalu memaksakan sesuatu harus, harus, harus.
jadikan harus, pokok dan wajib itu yang ada di Alquran dan hadits. Agama itu untuk dipatuhi dijalankan.
solusi: ajak anak berfikir, apa yg kamu sadari nak?
Choice based thingking sehingga dia menjadi orang yang berdaya.
contoh: dari Mobil yang merah dan biru ini kamu mau memutuskan mau beli yang mana.
-ajari anak berani memilih
betapa banyak remaja kita tidak berani memilih.
Locus of control secara internalnya kuat
misal: kamu harus mandi sekarang!
"Nak ini udah mau maghrib diantara ini kamu mau memilih jam berapa. Oke ini pilihan kamu, nanti umi ingatkan kembali ya!
terkait rukun iman dan islam gak ada pilah pilih, g ada pilihan.
6.Discount-ing vs Apreciative thingking
contoh:
-akumah apa atuh cuma remahan renginang di kaleng khonguan
-Aku cuma IRT biasa
-Aku cuma guru
-Aku belum bisa jadi ibu yang
-hmm kamu mah cm dikit hafalannya
Appreciative thingking:
Alhamdulillah anak umi sudah hafal 14 ayat. Terimakasih atas usaha seriusnya ya kamu Benar benar berjuang.
catatan:anak kita adalah CCTV berjalan yang sangat meniru
7.impossibility thingking vs possibility thingking
impossibility thingking
fixed mind
-ini susah sulit
-ini gak mungkin selesai cepat
-harus punya uang banyak dulu baru bisa
-jangan mimpi kamu
possibility thingking
growth mind
-Aha aku punya ide
-ini pasti ada solusi nya
-ini menantang, aku perlu Coba taklukan
-pasti puas kalo ketemu solusinya
fixed mindset boleh untuk hal yang prinsip (jujur, adil, tidak ambil hak orang lain)
catatan: jangan kungkung anak kita dengan sesuatu yang bisa ditaklukan
jangan batasi impian anak kita
Comments
Post a Comment